Nama:Adinda Adtika
Kelas:XI MIPA 6
Dampak pergaulan
bebas, penyakit/gangguan yang dapat terjadi pada sistem reproduksi dan
teknologi pada sistem reproduksi.
“Pergaulan Bebas adalah salah satu bentuk perilaku menyimpang. Istilah “bebas”
yang dimaksud adalah melewati batas-batas norma yang ada. Masalah pergaulan
bebas ini sering muncul baik di lingkungan maupun di media massa.
Para ahli pendidikan
sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai
dengan 18 tahun. Mereka sedang mencari pola hidup yang paling sesuai
baginya dan inipun sering dilakukan melalui metode coba-coba walaupun melalui
banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukan sering menimbulkan kekhawatiran
serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungan dan
orangtuanya. Generasi muda adalah tulang punggung bangsa, yang
diharapkan di masa depan mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa
ini agar lebih baik.Sehingga banyak kebudayaan-kebudayaan yang asing yang
masuk. Pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat
yang menguatirkan. Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu
bentuk gengsi yang membanggakan. Pengertian pacaran dalam era globalisasi
informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang
lalu.
Generasi muda adalah tulang punggung bangsa, yang
diharapkan di masa depan mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa
ini agar lebih baik. Dalam mempersiapkan generasi muda juga sangat tergantung
kepada kesiapan masyarakat yakni dengan keberadaan budayanya. Termasuk
didalamnya tentang pentingnya memberikan filter tentang perilaku-perilaku yang
negatif, yang antara lain; minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, sex
bebas, dan lain-lain yang dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit
HIV/AIDS.Akibatnya, di jaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena
hamil.
Ada beberapa faktor
penyebab remaja memilih untuk melakukan pergaulan bebas seperti :
·
Tingkat
pendidikan keluarga yang minim
Lingkungan keluarga adalah
salah satu faktor kunci yang sangat memengaruhi tindakan dan perilaku remaja di
masyarakat. Minimnya tingkat pendidikan di keluarga membuat remaja mudah
terpengaruh pergaulan bebas. Tingkat pendidikan yang paling berperan dalam hal
ini adalah pendidikan agama.Orang tua yang tidak melakukan pengawasan secara
intens mengakibatkan remaja terjerumus tanpa tahu itu benar atau tidaknya.
Contohnya adalah orangtua memberi izin anaknya untuk berpacaran, tapi orangtua
tidak melakukan pengawasan.
·
Broken home
Selain tingkat pendidikan
dalam keluarga yang minim, broken home juga menjadi salah satu faktor yang
menyebabkan remaja terkontaminasi pergaulan bebas. Broken home tidak selalu
dikaitkan dengan perceraian orang tua, tetapi keadaan rumah yang tidak nyaman
juga bisa dikategorikan sebagai broken home.Umumnya keadaan broken home membuat
mereka kurang mendapatkan perhatian dari kedua orang tua yang bermuara pada
kurangnya pengawasan orang tua. Hal tersebut menyebabkan korban broken home
mencoba mencari pelarian, salah satunya memilih untuk melakukan pergaulan
bebas.
·
Ekonomi keluarga
Ekonomi keluarga yang kurang
berkecukupan berisiko membuat remaja putus sekolah. Apalagi ditambah jika
keluarga tidak mendukung dan tidak berusaha. Akibatnya, kurang ilmu dan
pendidikan membuat remaja tanpa sadar terjerumus ke dalam pergaulan bebas.
·
Kondisi
lingkungan
Terdapat sebuah pepatah yang
mengibaratkan bergaul dengan tukang minyak wangi membuat kamu menjadi wangi,
namun bergaul dengan tukang minyak tanah membuat kamu menjadi bau minyak tanah.
Intinya adalah kondisi lingkungan akan memengaruhi karakter dan perilaku
seseorang. Hindari meniru kelakuan buruk di lingkungan karena berpotensi akan
menjerumuskan kita ke hal buruk tersebut. Maka dari itu penting untuk memfilter
pertemanan agar tidak terjerumus ke pergaulan bebas.
·
Penyalahgunaan
internet
Peredaran arus informasi di
internet sangatlah masif dan tak terhindarkan. Remaja bisa mengakses apa pun
yang ada di internet. Hal yang membuatnya berbahaya adalah risiko remaja meniru
konten yang tidak pantas di internet. Oleh karena itu, pengawasan dari orang
tua ketika remaja sedang berselancar di internet perlu dilakukan.
Dari pergaulan bebas yang
telah mereka lakukan dapat tertular penyakit yang berhubungan dengan system
organ intim seperti:
Deretan Penyakit pada Sistem Reproduksi Wanita
Sistem reproduksi wanita terdiri
dari organ luar dan dalam. Organ reproduksi wanita bagian dalam meliputi
vagina, rahim, saluran telur (tuba falopi), dan indung telur (ovarium). Sementara organ reproduksi wanita bagian
luar terdiri dari vulva, kelenjar Bartholin, dan klitoris.
Beberapa penyakit pada sistem
reproduksi wanita yang sering terjadi adalah:
1.
Endometriosis
2.
Radang panggul
3.
PCOS
4.
Miom
5.
Kanker pada organ reproduksi wanita
6.
HIV/AIDS
Penyakit pada Sistem Reproduksi Pria
Pria juga memiliki sistem
reproduksi yang berada di luar dan di dalam tubuh. Organ reproduksi pria yang
terletak di luar tubuh meliputi penis, skrotum (kantong zakar), dan
testis.Sedangkan organ reproduksi pria yang berada di dalam tubuh adalah
epididimis, saluran vas deferens, saluran kemih, vesikula seminalis
(kantung air mani), kelenjar prostat, dan kelenjar bulbourethral.
Deretan penyakit yang
dapat menyerang sistem reproduksi pria:
1.
Epididimitis
2. Orchitis
3.
Gangguan prostat
4.
Hipogonadisme
5.
Masalah pada penis
Untuk mengobati penyakit
sistem organ intim di perempuan yaitu HIV memiliki pengertian bahwa HIV/AIDS
(Human Immunodeficiency Virus)
adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang selanjutnya melemahkan
kemampuan tubuh melawan infeksi dan penyakit. Obat atau metode penanganan HIV
belum ditemukan. Dengan menjalani pengobatan tertentu, pengidap HIV bisa
memperlambat perkembangan penyakit ini, sehingga pengidap HIV bisa menjalani
hidup dengan normal. AIDS (Acquired
Immune Deficiency Syndrome) adalah kondisi di mana HIV sudah pada
tahap infeksi akhir. Ketika seseorang sudah mengalami AIDS, maka tubuh tidak
lagi memiliki kemampuan untuk melawan infeksi yang ditimbulkan.
Gejala HIV dan AIDS
Tahap Pertama:
- Pengidap
akan mengalami nyeri mirip, seperti flu, beberapa minggu setelah
terinfeksi, selama satu hingga dua bulan.
- Dapat
tidak menimbulkan gejala apapun selama beberapa tahun.
- Dapat
timbul demam, nyeri tenggorokan, ruam, pembengkakan kelenjar getah
bening, diare, kelelahan, nyeri otot, dan sendi.
Tahap Kedua:
- Umumnya,
tidak menimbulkan gejala lebih lanjut selama bertahun-tahun.
- Virus
terus menyebar dan merusak sistem kekebalan tubuh.
- Penularan
infeksi sudah bisa dilakukan pengidap kepada orang lain.
- Berlangsung
hingga 10 tahun atau lebih.
Tahap Ketiga:
·
Daya tahan pengidap rentan, sehingga mudah sakit, dan akan
berlanjut menjadi AIDS.
·
Demam terus-menerus lebih dari sepuluh hari.
·
Merasa lelah setiap saat.
·
Sulit bernapas.
·
Diare yang berat dan dalam jangka waktu yang lama.
·
Terjadi infeksi jamur pada tenggorokan, mulut, dan vagina.
·
Timbul bintik ungu pada kulit yang tidak akan hilang.
·
Hilang nafsu makan, sehingga berat badan turun drastis.
Pengobatan HIV dan AIDS
Meskipun sampai saat ini belum ada obat
untuk menyembuhkan HIV, tetapi ada jenis obat yang dapat memperlambat
perkembangan virus. Jenis obat ini disebut antiretroviral (ARV). ARV bekerja
dengan menghilangkan unsur yang dibutuhkan virus HIV untuk menggandakan diri dan
mencegah virus HIV menghancurkan sel CD4. Jenis obat ARV memiliki berbagai
varian, antara lain Etravirine, Efavirenz, Lamivudin, Zidovudin, dan
juga Nevirapine.
Selama mengonsumsi obat antiretroviral,
dokter akan memonitor jumlah virus dan sel CD4 untuk menilai respons pengidap
terhadap pengobatan. Hitung sel CD4 akan dilakukan tiap 3–6 bulan. Sedangkan
pemeriksaan HIV RNA, dilakukan sejak awal pengobatan, lalu dilanjutkan tiap 3–4
bulan selama masa pengobatan.
Agar perkembangan virus dapat dikendalikan,
pengidap harus segera mengonsumsi ARV begitu didiagnosis mengidap HIV. Risiko
pengidap HIV untuk terserang AIDS akan semakin besar jika pengobatan ditunda,
karena virus akan semakin merusak sistem kekebalan tubuh. Selain itu, penting
bagi pengidap untuk mengonsumsi ARV sesuai petunjuk dokter. Konsumsi obat yang
terlewat hanya akan membuat virus HIV berkembang lebih cepat dan memperburuk
kondisi pengidap.
Pencegahan HIV dan AIDS
·
Gunakan
kondom yang baru setiap berhubungan intim, baik hubungan intim vaginal maupun
anal.
·
Hindari berhubungan intim dengan lebih dari
satu pasangan.
·
Bersikap jujur kepada pasangan jika mengidap
positif HIV, agar pasangan juga menjalani tes HIV.
·
Diskusikan dengan dokter jika didiagnosis
positif HIV saat hamil, mengenai penanganan selanjutnya, dan perencanaan
persalinan, untuk mencegah penularan dari ibu ke janin.
·
Bersunat untuk mengurangi risiko infeksi HIV.
·
Jika menduga baru saja terinfeksi atau
tertular virus HIV, seperti setelah melakukan hubungan intim dengan pengidap
HIV, maka harus segera ke dokter. Agar bisa mendapatkan obat post-exposure
prophylaxis (PEP) yang dikonsumsi selama 28 hari dan terdiri dari 3
obat antiretroviral.